Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hati itu benar-benar bisa berkarat seperti berkaratnya besi.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Apa yang dapat membersihkannya? Mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an”. (HR. Baihaqi)

Demi Masa


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Monday, April 25, 2011

10 Sifat calon suami yang baik

Jika anda seorang wanita, carilah lelaki yang mempunyai sifat-sifat berikut.
Jika anda seorang lelaki, jadilah seorang lelaki yang mempunyai sifat-sifat berikut.

1. Kuat amalan agamanya. Menjaga solat fardhu, kerap berjemaah dan solat pada awal waktu. Auratnya juga sentiasa dipelihara dan memakai pakaian yang sopan. Sifat ini boleh dilihat terutama sewaktu bersukan.

2. Akhlaknya baik, iaitu seorang yang nampak tegas, tetapi sebenarnya seorang yang lembut dan mudah bertolak ansur. Pertuturannya juga mesti sopan, melambangkan peribadi dan hatinya yang mulia.

3. Tegas mempertahankan maruahnya. Tidak berkunjung ke tempat-tempat yang boleh menjatuhkan kredibilitinya.

4. Amanah, tidak mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak menyalahgunakan kuasa dan kedudukan.

5. Tidak boros, tetapi tidak kedekut. Tahu membelanjakan wang dengan bijaksana.

6. Menjaga mata dengan tidak melihat perempuan lain yang lalu lalang ketika sedang bercakap-cakap.

7. Pergaulan yang terbatas, tidak mengamalkan cara hidup bebas walaupun dia tahu dirinya mampu berbuat demikian.

8. Mempunyai rakan pergaulan yang baik. Rakan pergaulan seseorang itu biasanya sama.

9. Bertanggungjawab. Lihatlah dia dengan keluarga dan ibu bapanya.

10. Wajah yang tenang, tidak kira semasa bercakap atau membuat kerja atau masa kecemasan.

Saturday, April 23, 2011

Wanita Yang Memesankan Tempat Neraka

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut?

Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.

Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi?
Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!

Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan...
Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya...
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat... 
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk....
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah.... 

Sungguh Allah masih menyayangi kita 
Yang masih terus dibimbing-Nya 
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA agar semakin dekat.
Dan bagi mereka yang terlena 
Seharusnya segera sadar, mumpung kesempatan masih terbuka
Di sisa usia yang masih ada!
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana?

Wallahu a’lam

Semoga Jadi Renungan bagi kita semua...

TAUSIYAH:

Hukum Menutup Aurat

Alasan Perintah Menutup Aurat

Fitnah syahwat yang paling berat di alam ini adalah fitnah wanita, karena itu fitnah ini disebutkan pertama kali mengawali fitnah-fitnah syahwat lainnya sebagaimana firman Allah swt ;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al imron : 14)

Untuk itu Allah swt memerintahkan para wanita menutupi seluruh tubuhnya yang merupakan perhiasannya kecuali yang biasa ditampakkan dengan mengenakan jilbab dan kerudung hingga ke dada, sebagaimana firman-Nya :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.’ (QS. An Nuur : 31)

Dengan ditutupinya seluruh perhiasan seorang wanita maka akan mempersempit ruang bagi lawan jenisnya untuk mengarahkan pandangannya kepada perhiasannya atau bahkan menikmatinya dengan pandangan yang tidak wajar dan pandangan seperti ini adalah jalan menuju perzinahan bahkan ia sendiri sudah disebut dengan zina mata, sebagaimana hadits dari Abu Hurairoh ra dari Nabi saw bersabda,”Telah dituliskan terhadap anak Adam bagiannya dari zina dan bukan mustahil ia akan tertimpa olehnya. Zina mata adalah pandangan, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah dan hati memiliki kecenderungan serta harapan yang kemudian dituruti atau diingkari oleh kemaluan.” (HR. Muslim)

Hikmah lain dari perintah menutup aurat ini adalah sebagai ciri khas dan identitas seorang wanita muslimah dibandingkan dengan wanita-wanita non muslim, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya : “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Batasa Aurat Wanita
Tentang batasan aurat bagi seorang wanita ini, Sayyid Sabiq mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang wajib ditutup kecuali muka dan kedua telapak tangan, sebagaimana firman Allah swt :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya : “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”(QS. An Nuur : 31)

maksudnya janganlah mereka memperlihatkan tempat-tempat perhiasan, melainkan kedua telapak tangan, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits dari ibnu AbbasIbnu umar dan Aisyah.

Dari Aisyah ra bahwasanya Nabi saw bersabda,”Allah tidak menerima sholat perempuan yang telah mencapai usia baligh, kecuali dengan memakai telekung.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah kecuali Nasai. Sementara Ibnu Khuzaimah dan Hakim menyatakan sebagai hadits shahih, sedangkan Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan)

Dari Ummu Salamah bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi saw,”Bolehkan wanita mengerjakan shalat dengan memakai baju kurung dan telekung, tanpa kain atau sarung? ‘ Beliau saw menjawab,’(Boleh), apabila baju kurungnya lebar dan panjang menutup kedua tumitnya.” (HR. Abu Daud dan para imam menshahihkannya sebagai hadits mauquf)

Dari Aisyah ra bahwa ia pernah ditanya,”Berapa macamkah pakaian yang harus dipakai wanita yang hendak shalat?’ jawabnya,’Tanyakanlah kepada Ali bin Abi Thalib, kemudian datanglah kepadaku dan beritahukan jawabannya kepadaku!’ Orang itu pun mendatangi Ali dan menanyakan hal itu kepadanya. Ali berkata,’Memakai telekung dan baju dalam,’ kemudian orang itu kembali menjumpai Aisyah dan menceritakan jawaban Ali kepadanya. Lantas Aisyah berkata,’Itulah jawaban yang benar.” (Fiqhus Sunnah edisi terjemah juz I hal 179 – 180)

Wallahu a'lam

" Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."  (QS Al-Ahzab:59)

Friday, April 15, 2011

Kematian

Dalam banyak perkara, saya melihat secara umumnya manusia takut untuk mati. Saya juga tidak terkecuali. Jangan tersalah anggap, saya tidak mengatakan bahawa takut mati itu tidak baik. Ia baik kerana dengan rasa takut ini, kita lebih terdidik untuk menghargai. Menghargai diri sendiri dan orang lain.
Dalam Islam sendiri, Allah melarang hamba-Nya daripada memutuskan nyawa (bunuh diri) dan membunuh orang lain tanpa sebab yang dibenarkan. Ini jelas menunjukkan Islam sangat memelihara keselamatan jiwa makhluknya baik manusia juga binatang serta tumbuh-tumbuhan.
Tapi dalam masa kita takut mati, saya memerhatikan bahawa tidak ramai manusia yang takut untuk masuk neraka. Pelik, tapi ia reliti kehidupan. Manusia takut mati, tapi tidak takut jika dihumbankan ke dalam neraka.
Mengapa saya berkata begitu?
Bukankah dalam Islam, perkiraannya mudah. Jika kita mahu ke syurga yang penuh dengan nikmat, kita harus taat kepada Allah. Sebaliknya jika mahu ke neraka yang penuh dengan sengsara, maka kita tidak perlulah mengikuti garis panduan dan ketetapan-Nya. As simple as that.

Falsafah Kematian
Dalam menyelami falsafah kematian, ulama-ulama telah menerangkan bahawa mati itu ialah suatu proses perpindahan manusia, dari satu alam kepada alam yang lain. Lebih tepat, dari alam dunia kepada alam barzakh sebelum berangkat ke alam akhirat.
Benar, kematian itu jelas. Setiap yang bernyawa ada jangka hayatnya. Macam roti, ada expirednya. Tapi neraka itu juga realiti, benar, dan sahih. Neraka juga wujud, seperti kematian.
Bukan kisah dongeng, tapi benar. Ia pasti benar.

Persoalan
Mengapa Tuhan ciptakan neraka, jika benar Tuhan itu Pengampun, Pengasih dan Penyayang?
Maka, disini kita harus melihat sifat Allah Yang Maha Adil. Di sinilah keadilan Allah. Dia menciptakan syurga serta neraka. Bagi hamba yang baik, tempatnya syurga tapi bagi hamba yang jahat, nerakalah destinasinya.
Apa pernah kita dengar bahawa penghuni syurga itu orang zalim? Yang merasuah, membunuh, menganiaya, merogol, mencuri, merompak, derhaka atau yang suka mencarut serta bercakap kasar?
Tidak! Bahkan penghuni syurga itu sifatnya pemaaf, berbudi bahasa, baik tutur kata, bertanggungjawab, penyayang, lemah lembut, amanah dan lain-lain. Semuanya sifat yang baik-baik.

Baik kepada siapa?
Adakah kebaikan ahli syurga ini menguntungkan Tuhan? Oh, sama sekali tidak! Allah sama sekali tidak berharap dan memerlukan (bergantung) kepada makhluk, sebaliknya makhluk yang memerlukan Allah. Dan kebaikan ahli syurga ini tidak lain adalah menguntungkan makhluk juga terutamanya manusia.
Maka, yang selalu kita baca di dada akhbar ialah orang jahatlah yang selalunya mencuri atau buat jenayah. Tidak dinafikan, dalam kes-kes terpencil ada juga melibatkan orang bertudung labuh seperti kes pelajar sekolah agama buang bayi, tapi itu sangat terpencil.

Takut kepada neraka, apa kesannya?
Kita akan takut untuk berbuat amalan ahli neraka. Itu pasti. Amalan ahli neraka semuanya buruk-buruk belaka. Adakah dengan meninggalkan amalan ahli neraka akan menguntungkan Allah? Tidak! Sebaliknya yang untung ialah diri anda sendiri. Anda tidak akan dibenci, diburu polis, dirundum tekanan perasaan, dihantui rasa kesal dan paling nyata, jika anda seorang pendosa yang tak kenal erti taubat, anda tidak akan pernah merasa tenang walau sesaat dalam hidup.

Takut mati dan takut ke neraka, mana yang lebih utama?
Jika takut mati, maka yakinlah firman Allah dalam surah Al-Munafikun ayat 11:
"Allah tidak sekali-kali akan melambatkan kematian seseorang apabila sampai ajalnya"
Mati, sakitnya sebentar. Nazak atau sakit sakaratul maut, tidak sampai bertahun. Tapi jika sudah menjadi ahli neraka, takkan sekajap. Pasti bertahun diseksa.
Sakit mati, semua makhluk merasakannya termasuklah nabi dan rasul serta orang soleh. Semua 'menikmati' kesakitan yang hampir sama, tapi azab neraka cuma disediakan untuk VVIP sahaja, iaitu orang yang tidak bertaubat atas segala dosanya.
Takut mati kedudukannya lebih rendah daripada takut ke neraka. Kerana jika telah sampai seruan jihad al-qital, maka takut neraka akan mengatasi takut mati. Dengan itu, gugurlah para syuhada' yang dijamin tempatnya di dalam syurga. Takut mati, perlu tapi takut ke neraka adalah berkali-kali lebih perlu!

Sikap kita terhadap Al-quran

Setelah belasan atau puluhan tahun kita hidup, bagaimanakah interaksi kita dengan Al-Quran? Bagaimanakah kualiti bacaan Al-Quran kita? Bagaimanakah pula dengan penghayatan kita terhadap apa yang tertulis dalam Al-Quran?Sejauh manakah kita merasakan bahawa Al-Quran itu hidup dalam hati kita, dan hidup kita secara keseluruhannya adakah berpandu kepada acuan Al-Quran? Persoalan-persoalan ini mungkin akan menimbulkan jawapan-jawapan yang kurang memuaskan atau mungkin mengecewakan.
"Eh, aku dah khatam dah waktu darjah 5 dulu tau!"
"Takpelah, aku tak pandai sangat baca Quran, segan la nak tadarus"
"Kalau ada masa lapang aku baca la Quran"
"Ye ke Quran ni lengkap?"
"Alah, aku baca je, tak pernah tengok pun maknanya. Takpe, dapat pahala jugak"
Kalau begini layaknya sikap kita terhadap Al-Quran, bagaimanakah mungkin diri kita itu terbentuk dengan Al-Quran? Bagaimanakah mungkin Al-Quran itu menjadi panduan agung dalam kehidupan kita sedangkan kita tak pernah mengetahui sekalipun pengertiannya? Maka kita harus menyelami hati dan mula memikirkan, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Al-Quran?Adakah dengan mengambilnya sebagai bahan bacaan "mengisi masa lapang" atau "mesti" cari masa untuk dibaca? Adakah dengan menjadikannya bahan bacaan atau bahan rujukan dalam segenap kehidupan?
Ya, Al-Quran dengan bait-bait kata yang sama inilah yang menjadi perubah kehidupan sebuah bangsa Arab Jahiliah menjadi Khayru Ummah. Al-Quran dengan mesej yang sama sejak dulu inilah yang menjadi inspirasi terbebasnya Constantinopel di tangan Islam. Al-Quran dengan suruhan dan tegahan yang sama sejak dulu inilah yang menjadi sebab tertegaknya pemerintahan Islam.Namun, mengapakah kita tidak menjadi sebegitu hebat dengan Al-Quran ini? Adakah salah Al-Quran atau salah Umat Islam?
Tadabbur
Itulah kunci yang akan memberikan impak Al-Quran dalam kehidupan kita. Menghayati dengan erti kata yang sebenar, meyakini dengan sepenuhnya dan membawa segala mesej tersebut untuk dipraktikkan dalam kehidupan. Al-Quran bukan semata-mata untuk para Qari yang sedap dan merdu bacaannya. Al-Quran juga bukan hanya untuk ahli tafsir yang diberikan petunjuk oleh Allah untuk menggali segala persoalan dalam Al-Quran. Al-Quran bukan hanya untuk ustaz-ustaz yang memetiknya untuk dijadikan bahan ceramah. Namun Al-Quran untuk semua, untuk panduan umat manusia secara keseluruhannya. Maka setiap daripada kita wajib mendalami dan menghayati Al-Quran, menjadi "Al-Quran yang bergerak", hidup dengan acuannya.
"Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? Kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa', 4: 82)
"(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)?" (Muhammad, 47: 24)
Maka sekarang kita perlu mengubah orientasi pemikiran. Kalau sebelum ini Al-Quran itu kita anggap sebagai bahan bacaan, sekarang mari melangkah setapak dengan menjadikannya sebagai bahan penghayatan. Bahan rujukan untuk segenap isu dalam kehidupan. Bahan penyelesaian kepada segala permasalahan yang dialami dan dirasai. Berpandukan kepada kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para Ulama' seperti Tafsir Ibnu Kathir, Tafsir Fi Zilalil Quran Syed Qutub dan tafsir-tafsir lain, kita selak dan kita dalami Al-Quran. Insya-Allah, hidup kita akan menjadi semakin terarah dan semakin membaik kerana kita mengambil sebuah panduan yang tidak bengkok sama sekali.
"Segala puji terentu bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya (Muhammad), Kitab suci Al-Quran, dan tidak menjadikan padanya sesuatu yang bengkok (terpesong)." (Al-Kahfi, 18: 1)

Perkataa syukur yg dilupai

Ya Allah..Alhamdulillah, aku seorang Muslim
Ya Allah..Alhamdulillah, aku hidup sekarang
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat bernafas sekarang
Ya Allah..Alhamdulillah, aku sihat sekarang
Ya Allah..Alhamdulillah, aku sempurna fizikal
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada rumah
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada ibu dan bapa
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat makan
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat minum
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat pakaian
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada kerja
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat bersekolah
Ya Allah..Alhamdulillah, aku hidup dalam keadaan aman
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat berhibur (cara yang terbatas)
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada sahabat
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat tidur dengan nyenyak
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat menikmati udara segar
Ya Allah..Alhamdulillah
Ya Allah..Alhamdulillah!
Fikirkan, ramai manusia yang mengakui dia Islam, tetapi, adakah dia sudah melaksanakan tanggungjawabnya sebagai seorang Islam? Adakah hidupnya mengikut cara Islam? Solat 5 waktu? Puasa? Baca Al-Quran? Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita sedang bernafas sekarang, adakah kita gunakan hayat kita dengan sebaiknya? Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita sihat, tanpa penyakit buat masa sekarang, adakah kita gunakan masa sihat kita dengan sebaiknya? Dan adakah kita marah atau mengeluh dengan Allah jika kita ada penyakit? Ingat, penyakit merupakan tanda kasih Allah supaya kita ingat pada-Nya..SubhanAllah.. Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita ada rumah, makanan, minuman,pakaian dan pelbagai nikmat dari segi harta.. adakah kita makan dan minum, kita mulakan dengan Bismillah? Adakah kita menutup aurat ketika berpakaian dan kerana Allah Ta'ala? Adakah kita berhias mengikut cara Islam? Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita dapat berhibur (melalui cara terbatas), tetapi kadang-kadang kita terlupa, terlebih berhibur, lalai dan leka..
Fikirkan, kita hidup di Malaysia.. negara yang aman daripada peperangan (tidak termasuk perang politik). Kita dapat tidur dengan nyenyak, tiada bunyi bom, pistol dan segala jenis senjata. Tidak seperti di Iraq, Bosnia dan sebagainya. Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini? Seperti dalam Surah Ar-Rahman..Allah menekankan ayat ini sebanyak 31 kali.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang mana satukah yang kamu dustakan?" (Surah Ar-Rahman)
Kerana manusia itu mudah lupa, lalai dan leka dengan nikmat Allah yang terlalu banyak ini sehingga tidak terkira. Kadang-kadang kita lupa nak ucapkan:
"Terima kasih ya Allah! Terima Kasih! Alhamdulillah, nikmat yang Engkau berikan kepada ku amat banyak! Syukran ya Allah!"
Kadang-kadang kita lupa nak berterima kasih kepada Allah dengan cara beribadah kepada-Nya..kita lupa...lalai..
Kadang-kadang kita terlalu banyak merungut, "Kenapa aku tak dapat yang ini? Kenapa Allah kasi aku yang ini?!"
Tetapi kita tidak sedar, kita tak tanamkan dalam diri bahawa Allah itu Maha Mengetahui. Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.. Kadang-kadang kita tidak sedar, Allah hanya meminjamkan kekayaan Dia kepada kita, tetapi kita? Dengan kekayaan itulah kita gunakan untuk menentang Tuhan Yang menciptakan alam ini.. Na'uzubillah..
Sahabat-sahabat sekalian, marilah kita muhasabah diri masing-masing..

Perjalanan dunia dan destinasi akhirat


Kehidupan dunia adalah sementara yang merupakan persinggahan yang pasti dilalui. Dunia ibarat lapangan peperiksaan kita selepas menempuh satu pengajian yang lama ketika berada di alam roh dan rahim. Peperiksaan ini harus ditempuhi sama ada kita bersedia atau sebaliknya.
Bagi mereka yang peka dan tahu apa yang harus dilakukan, semestinya telah membuat persediaan rapi dari awalnya lagi, agar setiap jawapan yang dicoret akan menghasilkan nilai yang tinggi, dan seterusnya mendapat tempat di menara gading iaitu Syurga.
Aturlah kehidupan dari sekarang, jangan terlopong kekosongan antara liang-liang usia meninggalkan bekas kekotoran akibat perbuatan tangan sendiri. Degil kekotoran sukar dibasuh, apatah lagi menanggalkan jejaknya.
Kadang-kadang terasa lemah, dan rasa tidak bermakna untuk menyampai dan mengajak kepada kebaikan, kerana dirasakan kita tidak mampu mengubah apa-apa, sedangkan perubahan tersebut bukannya sekejap, tapi kadang-kadang memakan masa bertahun-tahun.
Manusia yang bertemu Allah swt dengan membawa hati yang sejahtera adalah manusia yang mempersembahkan pita rakaman kepada segala ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah swt semasa menunaikan kewajipan hidup di dunia. Kejayaan di dunia hanya sebuah perjalanan, bukannya destinasi abadi kita. Carilah Dia.

Bagaimanakah Caranya?
Ilmu Tauhid adalah ilmu mengenal Allah swt. Dengan memahami ilmu sains, kefahaman kita kepada Allah swt akan menjadi lebih berkesan, sebagaimana contoh orang purba pun pandai membuat rumah, tetapi dengan sains dan teknologi, teknik membuat rumah menjadi lebih berkesan dan menghasilkan rumah yang jauh lebih baik. Kalau pemikiran kita terbuka kepada manhaj ilmu sains (akal rational), insha-Allah, kewujudan Allah swt akan menjadi lebih bermakna pada kita sebagai muslim dan mukmin.
Kesubjektifan sesuatu perkara diukur dari pengetahuan asal dan pengalaman yang telah dilalui oleh seseorang. Sebagaimana Allah swt mengajar Nabi Nuh as supaya berdoa memohon daripada meminta sesuatu yang tidak diketahui kesan dan akibatnya, begitu juga kita perlu kembalikan pengharapan bagi proses mencerahkan pemahaman agama kita kepada Allah swt. Sudah terang lagi bersuluh, jika Allah swt mahukan kebaikan ke atas seseorang itu, maka akan Allah swt berikan kefaqihan dan kesahihan dalam beragama.
Analoginya, kita melatih kanak-kanak secara perlahan (gradual proses) untuk memahami sesuatu. Berkembangnya pemikiran kanak-kanak bermakna dia mendapat penambahbaikan dari segi pemahaman pada kehidupan. Kiranya kita boleh berinteraksi dengan situasi itu, maka adalah sama situasinya dengan kemajuan untuk mengenal Allah swt, bagi orang dewasa. Ia bekembang dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi, dengan syarat, ada keterbukaan orang yang beranggapan itu.
Kalau dilihat sebagai 'instruction manual', penulis kira kesemua sistem ini akan menerangkan bagaimana hendak mendapatkan manfaat terbaik dari sesuatu, iaitu dengan mengenalnya dan menggunakannya. Apabila telah mengenalnya barulah timbul rasa hormat dan kemahuan menjaga mengikut panduan yang diberikan. Oleh itu tujuan hidup lebih kepada mengenal-Nya dan kemudian mengabdikan diri kepada-Nya setelah mengenal.
Awal agama itu ialah mengenal Tuhan. Islam adalah agama wahyu. Bukan berlandaskan rasional akal dan kajian saintifik semata-mata, namun Islam amat menggalakkan penganutnya menggunakan seluruh anugerah akal demi membangunkan tamadun manusia.
Ilmu dan pengetahuan menjadikan Adam terpilih untuk memimpin bumi ciptaan Allah. Faqih dalam agama adalah asas dan tunjang, juga bertindak sebagai pengawal kepada gelojohnya nafsu dan pemikiran yang tersasar.

Muhasabah
Sibukkanlah diri dengan amal yang memberi saham kepada kita, usah dikira habuannya di dunia, lebih penting menjadi baucer kita bertemu Tuhan di destinasi terakhir kelak, yaumul akhirah. Tiada pelaburan yang lebih baik berbanding pelaburan akhirat. Allah swt berfirman yang bermaksud:
"Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya. Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta kamu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui" (As-Saff,61:10-11)

Demi cinta Allah

Dia ingin berubah. Dia ingin jadi seperti dahulu. Sentiasa mengingati Allah, sentiasa takut akan azab-Nya, sentiasa taat pada perintahn-Nya, dan sentiasa jaga batas pergaulan. Dia yakin dan percaya, perempuan yang dijaga oleh Allah, pasti tidak akan membenarkan mana-mana tangan lelaki menyentuh dirinya.
Namun, takala dia merasakan dirinya cukup bahagia dengan hidayah Allah, Allah menguji dirinya. Allah menghadirkan dirinya dengan seorang lelaki yang menuntut balasan cinta. Dirinya dimewahkan dengan kata-kata pujian, dengan gurindam rindu dan madah-madah cinta yang sebelum ini tidak pernah meneroka hati dan jiwanya.
Dia percaya cinta dari Allah, tapi dia lupa itu bukan caranya. Dia alpa. Hatinya sudah tidak seperti dahulu. Hatinya dilimpahi rasa rindu si jejaka. Rindu si nafsu yang mengwar-warkan kemanisan cinta manusia. Bukan dia tidak sedar dia sudah berubah, bukan juga dia tidak sedar bahawa ketenangan hati yang pernah dianugerahkan oleh Allah semakin menjauhi. Dia menutup kesedaran itu dengan janji dan kata-kata cinta si jejaka.
Dia sudah jauh dari hidayah Allah. Imannya rapuh, syaitan menari-nari tatkala dia membenarkan tangan rakus si jejaka menyentuh dirinya bersama alunan syahdu janji kekasih. Tempat yang sepatutnya dia jaga, didedahkan. Kononnya yakin si jejaka adalah suaminya.
Tidakkah dia takut dengan dosa atau dengan azab Allah?. Ya, dia sedar tetapi separa sedar. Rasa sayangnya pada jejaka itu mulai melebihi segalanya. Namun, syukur pada Allah, Allah masih sayang padanya. Jejaka itu gagal menawan mahkota dirinya. Saat dirinya berutus cinta, dia masih lagi solat, dia tidak lupa tanggungjawabnya. Namun mungkin solatnya masih tidak sempurna lalu robohlah benteng imannya dipukul ombak nafsu cinta manusia.
Allamdullilah. Allah menurunkan hidayah pada dirinya. Di saat jejaka menyepikan diri seketika, dirinya dilanda rasa berdosa. Mengingati kembali dosa-dosa yang dilakukan, mengalir air mata kekesalan. Disaksikan kegelapan malam, dia bangun untuk bersolat taubat. Menangislah dirinya sepuas-puasnya. Dia memohon petunjuk pada Allah, dia ingin kembali, kembali atas cinta. Demi cinta Allah yang tidak pernah berpaling dari hidupnya dia nekad untuk berubah. Namun hatinya sedikit takut akan janji Allah.
"Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan begitu sebaliknya."
Apa yang patut dia lakukan kini. Dia mula merasakan dia bukan dari kalangan wanita yang baik-baik. Tidak layak untuk sesiapa. Dia menutup pintu hatinya seketika dari cinta manusia yang bernafsu yang mengeruhkan kolam keimanannya yang pasang surut. Sehingga ditakdirkan Allah untuk dirinya bertemu dengan seseorang yang mencintainya kerana Allah.
"Demi cinta Allah yang ku kejar, kuatkan hatiku untuk bertahan, berikan ku kecerdasan akal untuk sentiasa berfikir tentang kuasaMu, hulurkan pertolonganMu di saat-saat aku hampir tewas, sinarkan nur hidayahMu untuk aku terus di jalanMu. Ya Allah! Aku memohon keampunan kepadaMu."