Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hati itu benar-benar bisa berkarat seperti berkaratnya besi.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Apa yang dapat membersihkannya? Mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an”. (HR. Baihaqi)

Demi Masa


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Monday, April 25, 2011

10 Sifat calon suami yang baik

Jika anda seorang wanita, carilah lelaki yang mempunyai sifat-sifat berikut.
Jika anda seorang lelaki, jadilah seorang lelaki yang mempunyai sifat-sifat berikut.

1. Kuat amalan agamanya. Menjaga solat fardhu, kerap berjemaah dan solat pada awal waktu. Auratnya juga sentiasa dipelihara dan memakai pakaian yang sopan. Sifat ini boleh dilihat terutama sewaktu bersukan.

2. Akhlaknya baik, iaitu seorang yang nampak tegas, tetapi sebenarnya seorang yang lembut dan mudah bertolak ansur. Pertuturannya juga mesti sopan, melambangkan peribadi dan hatinya yang mulia.

3. Tegas mempertahankan maruahnya. Tidak berkunjung ke tempat-tempat yang boleh menjatuhkan kredibilitinya.

4. Amanah, tidak mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak menyalahgunakan kuasa dan kedudukan.

5. Tidak boros, tetapi tidak kedekut. Tahu membelanjakan wang dengan bijaksana.

6. Menjaga mata dengan tidak melihat perempuan lain yang lalu lalang ketika sedang bercakap-cakap.

7. Pergaulan yang terbatas, tidak mengamalkan cara hidup bebas walaupun dia tahu dirinya mampu berbuat demikian.

8. Mempunyai rakan pergaulan yang baik. Rakan pergaulan seseorang itu biasanya sama.

9. Bertanggungjawab. Lihatlah dia dengan keluarga dan ibu bapanya.

10. Wajah yang tenang, tidak kira semasa bercakap atau membuat kerja atau masa kecemasan.

Saturday, April 23, 2011

Wanita Yang Memesankan Tempat Neraka

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut?

Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.

Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi?
Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!

Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan...
Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya...
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat... 
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk....
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah.... 

Sungguh Allah masih menyayangi kita 
Yang masih terus dibimbing-Nya 
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA agar semakin dekat.
Dan bagi mereka yang terlena 
Seharusnya segera sadar, mumpung kesempatan masih terbuka
Di sisa usia yang masih ada!
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana?

Wallahu a’lam

Semoga Jadi Renungan bagi kita semua...

TAUSIYAH:

Hukum Menutup Aurat

Alasan Perintah Menutup Aurat

Fitnah syahwat yang paling berat di alam ini adalah fitnah wanita, karena itu fitnah ini disebutkan pertama kali mengawali fitnah-fitnah syahwat lainnya sebagaimana firman Allah swt ;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al imron : 14)

Untuk itu Allah swt memerintahkan para wanita menutupi seluruh tubuhnya yang merupakan perhiasannya kecuali yang biasa ditampakkan dengan mengenakan jilbab dan kerudung hingga ke dada, sebagaimana firman-Nya :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.’ (QS. An Nuur : 31)

Dengan ditutupinya seluruh perhiasan seorang wanita maka akan mempersempit ruang bagi lawan jenisnya untuk mengarahkan pandangannya kepada perhiasannya atau bahkan menikmatinya dengan pandangan yang tidak wajar dan pandangan seperti ini adalah jalan menuju perzinahan bahkan ia sendiri sudah disebut dengan zina mata, sebagaimana hadits dari Abu Hurairoh ra dari Nabi saw bersabda,”Telah dituliskan terhadap anak Adam bagiannya dari zina dan bukan mustahil ia akan tertimpa olehnya. Zina mata adalah pandangan, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah dan hati memiliki kecenderungan serta harapan yang kemudian dituruti atau diingkari oleh kemaluan.” (HR. Muslim)

Hikmah lain dari perintah menutup aurat ini adalah sebagai ciri khas dan identitas seorang wanita muslimah dibandingkan dengan wanita-wanita non muslim, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya : “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Batasa Aurat Wanita
Tentang batasan aurat bagi seorang wanita ini, Sayyid Sabiq mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang wajib ditutup kecuali muka dan kedua telapak tangan, sebagaimana firman Allah swt :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya : “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”(QS. An Nuur : 31)

maksudnya janganlah mereka memperlihatkan tempat-tempat perhiasan, melainkan kedua telapak tangan, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits dari ibnu AbbasIbnu umar dan Aisyah.

Dari Aisyah ra bahwasanya Nabi saw bersabda,”Allah tidak menerima sholat perempuan yang telah mencapai usia baligh, kecuali dengan memakai telekung.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah kecuali Nasai. Sementara Ibnu Khuzaimah dan Hakim menyatakan sebagai hadits shahih, sedangkan Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan)

Dari Ummu Salamah bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi saw,”Bolehkan wanita mengerjakan shalat dengan memakai baju kurung dan telekung, tanpa kain atau sarung? ‘ Beliau saw menjawab,’(Boleh), apabila baju kurungnya lebar dan panjang menutup kedua tumitnya.” (HR. Abu Daud dan para imam menshahihkannya sebagai hadits mauquf)

Dari Aisyah ra bahwa ia pernah ditanya,”Berapa macamkah pakaian yang harus dipakai wanita yang hendak shalat?’ jawabnya,’Tanyakanlah kepada Ali bin Abi Thalib, kemudian datanglah kepadaku dan beritahukan jawabannya kepadaku!’ Orang itu pun mendatangi Ali dan menanyakan hal itu kepadanya. Ali berkata,’Memakai telekung dan baju dalam,’ kemudian orang itu kembali menjumpai Aisyah dan menceritakan jawaban Ali kepadanya. Lantas Aisyah berkata,’Itulah jawaban yang benar.” (Fiqhus Sunnah edisi terjemah juz I hal 179 – 180)

Wallahu a'lam

" Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."  (QS Al-Ahzab:59)

Friday, April 15, 2011

Kematian

Dalam banyak perkara, saya melihat secara umumnya manusia takut untuk mati. Saya juga tidak terkecuali. Jangan tersalah anggap, saya tidak mengatakan bahawa takut mati itu tidak baik. Ia baik kerana dengan rasa takut ini, kita lebih terdidik untuk menghargai. Menghargai diri sendiri dan orang lain.
Dalam Islam sendiri, Allah melarang hamba-Nya daripada memutuskan nyawa (bunuh diri) dan membunuh orang lain tanpa sebab yang dibenarkan. Ini jelas menunjukkan Islam sangat memelihara keselamatan jiwa makhluknya baik manusia juga binatang serta tumbuh-tumbuhan.
Tapi dalam masa kita takut mati, saya memerhatikan bahawa tidak ramai manusia yang takut untuk masuk neraka. Pelik, tapi ia reliti kehidupan. Manusia takut mati, tapi tidak takut jika dihumbankan ke dalam neraka.
Mengapa saya berkata begitu?
Bukankah dalam Islam, perkiraannya mudah. Jika kita mahu ke syurga yang penuh dengan nikmat, kita harus taat kepada Allah. Sebaliknya jika mahu ke neraka yang penuh dengan sengsara, maka kita tidak perlulah mengikuti garis panduan dan ketetapan-Nya. As simple as that.

Falsafah Kematian
Dalam menyelami falsafah kematian, ulama-ulama telah menerangkan bahawa mati itu ialah suatu proses perpindahan manusia, dari satu alam kepada alam yang lain. Lebih tepat, dari alam dunia kepada alam barzakh sebelum berangkat ke alam akhirat.
Benar, kematian itu jelas. Setiap yang bernyawa ada jangka hayatnya. Macam roti, ada expirednya. Tapi neraka itu juga realiti, benar, dan sahih. Neraka juga wujud, seperti kematian.
Bukan kisah dongeng, tapi benar. Ia pasti benar.

Persoalan
Mengapa Tuhan ciptakan neraka, jika benar Tuhan itu Pengampun, Pengasih dan Penyayang?
Maka, disini kita harus melihat sifat Allah Yang Maha Adil. Di sinilah keadilan Allah. Dia menciptakan syurga serta neraka. Bagi hamba yang baik, tempatnya syurga tapi bagi hamba yang jahat, nerakalah destinasinya.
Apa pernah kita dengar bahawa penghuni syurga itu orang zalim? Yang merasuah, membunuh, menganiaya, merogol, mencuri, merompak, derhaka atau yang suka mencarut serta bercakap kasar?
Tidak! Bahkan penghuni syurga itu sifatnya pemaaf, berbudi bahasa, baik tutur kata, bertanggungjawab, penyayang, lemah lembut, amanah dan lain-lain. Semuanya sifat yang baik-baik.

Baik kepada siapa?
Adakah kebaikan ahli syurga ini menguntungkan Tuhan? Oh, sama sekali tidak! Allah sama sekali tidak berharap dan memerlukan (bergantung) kepada makhluk, sebaliknya makhluk yang memerlukan Allah. Dan kebaikan ahli syurga ini tidak lain adalah menguntungkan makhluk juga terutamanya manusia.
Maka, yang selalu kita baca di dada akhbar ialah orang jahatlah yang selalunya mencuri atau buat jenayah. Tidak dinafikan, dalam kes-kes terpencil ada juga melibatkan orang bertudung labuh seperti kes pelajar sekolah agama buang bayi, tapi itu sangat terpencil.

Takut kepada neraka, apa kesannya?
Kita akan takut untuk berbuat amalan ahli neraka. Itu pasti. Amalan ahli neraka semuanya buruk-buruk belaka. Adakah dengan meninggalkan amalan ahli neraka akan menguntungkan Allah? Tidak! Sebaliknya yang untung ialah diri anda sendiri. Anda tidak akan dibenci, diburu polis, dirundum tekanan perasaan, dihantui rasa kesal dan paling nyata, jika anda seorang pendosa yang tak kenal erti taubat, anda tidak akan pernah merasa tenang walau sesaat dalam hidup.

Takut mati dan takut ke neraka, mana yang lebih utama?
Jika takut mati, maka yakinlah firman Allah dalam surah Al-Munafikun ayat 11:
"Allah tidak sekali-kali akan melambatkan kematian seseorang apabila sampai ajalnya"
Mati, sakitnya sebentar. Nazak atau sakit sakaratul maut, tidak sampai bertahun. Tapi jika sudah menjadi ahli neraka, takkan sekajap. Pasti bertahun diseksa.
Sakit mati, semua makhluk merasakannya termasuklah nabi dan rasul serta orang soleh. Semua 'menikmati' kesakitan yang hampir sama, tapi azab neraka cuma disediakan untuk VVIP sahaja, iaitu orang yang tidak bertaubat atas segala dosanya.
Takut mati kedudukannya lebih rendah daripada takut ke neraka. Kerana jika telah sampai seruan jihad al-qital, maka takut neraka akan mengatasi takut mati. Dengan itu, gugurlah para syuhada' yang dijamin tempatnya di dalam syurga. Takut mati, perlu tapi takut ke neraka adalah berkali-kali lebih perlu!

Sikap kita terhadap Al-quran

Setelah belasan atau puluhan tahun kita hidup, bagaimanakah interaksi kita dengan Al-Quran? Bagaimanakah kualiti bacaan Al-Quran kita? Bagaimanakah pula dengan penghayatan kita terhadap apa yang tertulis dalam Al-Quran?Sejauh manakah kita merasakan bahawa Al-Quran itu hidup dalam hati kita, dan hidup kita secara keseluruhannya adakah berpandu kepada acuan Al-Quran? Persoalan-persoalan ini mungkin akan menimbulkan jawapan-jawapan yang kurang memuaskan atau mungkin mengecewakan.
"Eh, aku dah khatam dah waktu darjah 5 dulu tau!"
"Takpelah, aku tak pandai sangat baca Quran, segan la nak tadarus"
"Kalau ada masa lapang aku baca la Quran"
"Ye ke Quran ni lengkap?"
"Alah, aku baca je, tak pernah tengok pun maknanya. Takpe, dapat pahala jugak"
Kalau begini layaknya sikap kita terhadap Al-Quran, bagaimanakah mungkin diri kita itu terbentuk dengan Al-Quran? Bagaimanakah mungkin Al-Quran itu menjadi panduan agung dalam kehidupan kita sedangkan kita tak pernah mengetahui sekalipun pengertiannya? Maka kita harus menyelami hati dan mula memikirkan, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Al-Quran?Adakah dengan mengambilnya sebagai bahan bacaan "mengisi masa lapang" atau "mesti" cari masa untuk dibaca? Adakah dengan menjadikannya bahan bacaan atau bahan rujukan dalam segenap kehidupan?
Ya, Al-Quran dengan bait-bait kata yang sama inilah yang menjadi perubah kehidupan sebuah bangsa Arab Jahiliah menjadi Khayru Ummah. Al-Quran dengan mesej yang sama sejak dulu inilah yang menjadi inspirasi terbebasnya Constantinopel di tangan Islam. Al-Quran dengan suruhan dan tegahan yang sama sejak dulu inilah yang menjadi sebab tertegaknya pemerintahan Islam.Namun, mengapakah kita tidak menjadi sebegitu hebat dengan Al-Quran ini? Adakah salah Al-Quran atau salah Umat Islam?
Tadabbur
Itulah kunci yang akan memberikan impak Al-Quran dalam kehidupan kita. Menghayati dengan erti kata yang sebenar, meyakini dengan sepenuhnya dan membawa segala mesej tersebut untuk dipraktikkan dalam kehidupan. Al-Quran bukan semata-mata untuk para Qari yang sedap dan merdu bacaannya. Al-Quran juga bukan hanya untuk ahli tafsir yang diberikan petunjuk oleh Allah untuk menggali segala persoalan dalam Al-Quran. Al-Quran bukan hanya untuk ustaz-ustaz yang memetiknya untuk dijadikan bahan ceramah. Namun Al-Quran untuk semua, untuk panduan umat manusia secara keseluruhannya. Maka setiap daripada kita wajib mendalami dan menghayati Al-Quran, menjadi "Al-Quran yang bergerak", hidup dengan acuannya.
"Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? Kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa', 4: 82)
"(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)?" (Muhammad, 47: 24)
Maka sekarang kita perlu mengubah orientasi pemikiran. Kalau sebelum ini Al-Quran itu kita anggap sebagai bahan bacaan, sekarang mari melangkah setapak dengan menjadikannya sebagai bahan penghayatan. Bahan rujukan untuk segenap isu dalam kehidupan. Bahan penyelesaian kepada segala permasalahan yang dialami dan dirasai. Berpandukan kepada kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para Ulama' seperti Tafsir Ibnu Kathir, Tafsir Fi Zilalil Quran Syed Qutub dan tafsir-tafsir lain, kita selak dan kita dalami Al-Quran. Insya-Allah, hidup kita akan menjadi semakin terarah dan semakin membaik kerana kita mengambil sebuah panduan yang tidak bengkok sama sekali.
"Segala puji terentu bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya (Muhammad), Kitab suci Al-Quran, dan tidak menjadikan padanya sesuatu yang bengkok (terpesong)." (Al-Kahfi, 18: 1)

Perkataa syukur yg dilupai

Ya Allah..Alhamdulillah, aku seorang Muslim
Ya Allah..Alhamdulillah, aku hidup sekarang
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat bernafas sekarang
Ya Allah..Alhamdulillah, aku sihat sekarang
Ya Allah..Alhamdulillah, aku sempurna fizikal
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada rumah
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada ibu dan bapa
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat makan
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat minum
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat pakaian
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada kerja
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat bersekolah
Ya Allah..Alhamdulillah, aku hidup dalam keadaan aman
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat berhibur (cara yang terbatas)
Ya Allah..Alhamdulillah, aku ada sahabat
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat tidur dengan nyenyak
Ya Allah..Alhamdulillah, aku dapat menikmati udara segar
Ya Allah..Alhamdulillah
Ya Allah..Alhamdulillah!
Fikirkan, ramai manusia yang mengakui dia Islam, tetapi, adakah dia sudah melaksanakan tanggungjawabnya sebagai seorang Islam? Adakah hidupnya mengikut cara Islam? Solat 5 waktu? Puasa? Baca Al-Quran? Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita sedang bernafas sekarang, adakah kita gunakan hayat kita dengan sebaiknya? Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita sihat, tanpa penyakit buat masa sekarang, adakah kita gunakan masa sihat kita dengan sebaiknya? Dan adakah kita marah atau mengeluh dengan Allah jika kita ada penyakit? Ingat, penyakit merupakan tanda kasih Allah supaya kita ingat pada-Nya..SubhanAllah.. Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita ada rumah, makanan, minuman,pakaian dan pelbagai nikmat dari segi harta.. adakah kita makan dan minum, kita mulakan dengan Bismillah? Adakah kita menutup aurat ketika berpakaian dan kerana Allah Ta'ala? Adakah kita berhias mengikut cara Islam? Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini?
Fikirkan, kita dapat berhibur (melalui cara terbatas), tetapi kadang-kadang kita terlupa, terlebih berhibur, lalai dan leka..
Fikirkan, kita hidup di Malaysia.. negara yang aman daripada peperangan (tidak termasuk perang politik). Kita dapat tidur dengan nyenyak, tiada bunyi bom, pistol dan segala jenis senjata. Tidak seperti di Iraq, Bosnia dan sebagainya. Adakah kita bersyukur dengan nikmat ini? Seperti dalam Surah Ar-Rahman..Allah menekankan ayat ini sebanyak 31 kali.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang mana satukah yang kamu dustakan?" (Surah Ar-Rahman)
Kerana manusia itu mudah lupa, lalai dan leka dengan nikmat Allah yang terlalu banyak ini sehingga tidak terkira. Kadang-kadang kita lupa nak ucapkan:
"Terima kasih ya Allah! Terima Kasih! Alhamdulillah, nikmat yang Engkau berikan kepada ku amat banyak! Syukran ya Allah!"
Kadang-kadang kita lupa nak berterima kasih kepada Allah dengan cara beribadah kepada-Nya..kita lupa...lalai..
Kadang-kadang kita terlalu banyak merungut, "Kenapa aku tak dapat yang ini? Kenapa Allah kasi aku yang ini?!"
Tetapi kita tidak sedar, kita tak tanamkan dalam diri bahawa Allah itu Maha Mengetahui. Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.. Kadang-kadang kita tidak sedar, Allah hanya meminjamkan kekayaan Dia kepada kita, tetapi kita? Dengan kekayaan itulah kita gunakan untuk menentang Tuhan Yang menciptakan alam ini.. Na'uzubillah..
Sahabat-sahabat sekalian, marilah kita muhasabah diri masing-masing..

Perjalanan dunia dan destinasi akhirat


Kehidupan dunia adalah sementara yang merupakan persinggahan yang pasti dilalui. Dunia ibarat lapangan peperiksaan kita selepas menempuh satu pengajian yang lama ketika berada di alam roh dan rahim. Peperiksaan ini harus ditempuhi sama ada kita bersedia atau sebaliknya.
Bagi mereka yang peka dan tahu apa yang harus dilakukan, semestinya telah membuat persediaan rapi dari awalnya lagi, agar setiap jawapan yang dicoret akan menghasilkan nilai yang tinggi, dan seterusnya mendapat tempat di menara gading iaitu Syurga.
Aturlah kehidupan dari sekarang, jangan terlopong kekosongan antara liang-liang usia meninggalkan bekas kekotoran akibat perbuatan tangan sendiri. Degil kekotoran sukar dibasuh, apatah lagi menanggalkan jejaknya.
Kadang-kadang terasa lemah, dan rasa tidak bermakna untuk menyampai dan mengajak kepada kebaikan, kerana dirasakan kita tidak mampu mengubah apa-apa, sedangkan perubahan tersebut bukannya sekejap, tapi kadang-kadang memakan masa bertahun-tahun.
Manusia yang bertemu Allah swt dengan membawa hati yang sejahtera adalah manusia yang mempersembahkan pita rakaman kepada segala ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah swt semasa menunaikan kewajipan hidup di dunia. Kejayaan di dunia hanya sebuah perjalanan, bukannya destinasi abadi kita. Carilah Dia.

Bagaimanakah Caranya?
Ilmu Tauhid adalah ilmu mengenal Allah swt. Dengan memahami ilmu sains, kefahaman kita kepada Allah swt akan menjadi lebih berkesan, sebagaimana contoh orang purba pun pandai membuat rumah, tetapi dengan sains dan teknologi, teknik membuat rumah menjadi lebih berkesan dan menghasilkan rumah yang jauh lebih baik. Kalau pemikiran kita terbuka kepada manhaj ilmu sains (akal rational), insha-Allah, kewujudan Allah swt akan menjadi lebih bermakna pada kita sebagai muslim dan mukmin.
Kesubjektifan sesuatu perkara diukur dari pengetahuan asal dan pengalaman yang telah dilalui oleh seseorang. Sebagaimana Allah swt mengajar Nabi Nuh as supaya berdoa memohon daripada meminta sesuatu yang tidak diketahui kesan dan akibatnya, begitu juga kita perlu kembalikan pengharapan bagi proses mencerahkan pemahaman agama kita kepada Allah swt. Sudah terang lagi bersuluh, jika Allah swt mahukan kebaikan ke atas seseorang itu, maka akan Allah swt berikan kefaqihan dan kesahihan dalam beragama.
Analoginya, kita melatih kanak-kanak secara perlahan (gradual proses) untuk memahami sesuatu. Berkembangnya pemikiran kanak-kanak bermakna dia mendapat penambahbaikan dari segi pemahaman pada kehidupan. Kiranya kita boleh berinteraksi dengan situasi itu, maka adalah sama situasinya dengan kemajuan untuk mengenal Allah swt, bagi orang dewasa. Ia bekembang dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi, dengan syarat, ada keterbukaan orang yang beranggapan itu.
Kalau dilihat sebagai 'instruction manual', penulis kira kesemua sistem ini akan menerangkan bagaimana hendak mendapatkan manfaat terbaik dari sesuatu, iaitu dengan mengenalnya dan menggunakannya. Apabila telah mengenalnya barulah timbul rasa hormat dan kemahuan menjaga mengikut panduan yang diberikan. Oleh itu tujuan hidup lebih kepada mengenal-Nya dan kemudian mengabdikan diri kepada-Nya setelah mengenal.
Awal agama itu ialah mengenal Tuhan. Islam adalah agama wahyu. Bukan berlandaskan rasional akal dan kajian saintifik semata-mata, namun Islam amat menggalakkan penganutnya menggunakan seluruh anugerah akal demi membangunkan tamadun manusia.
Ilmu dan pengetahuan menjadikan Adam terpilih untuk memimpin bumi ciptaan Allah. Faqih dalam agama adalah asas dan tunjang, juga bertindak sebagai pengawal kepada gelojohnya nafsu dan pemikiran yang tersasar.

Muhasabah
Sibukkanlah diri dengan amal yang memberi saham kepada kita, usah dikira habuannya di dunia, lebih penting menjadi baucer kita bertemu Tuhan di destinasi terakhir kelak, yaumul akhirah. Tiada pelaburan yang lebih baik berbanding pelaburan akhirat. Allah swt berfirman yang bermaksud:
"Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya. Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta kamu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui" (As-Saff,61:10-11)

Demi cinta Allah

Dia ingin berubah. Dia ingin jadi seperti dahulu. Sentiasa mengingati Allah, sentiasa takut akan azab-Nya, sentiasa taat pada perintahn-Nya, dan sentiasa jaga batas pergaulan. Dia yakin dan percaya, perempuan yang dijaga oleh Allah, pasti tidak akan membenarkan mana-mana tangan lelaki menyentuh dirinya.
Namun, takala dia merasakan dirinya cukup bahagia dengan hidayah Allah, Allah menguji dirinya. Allah menghadirkan dirinya dengan seorang lelaki yang menuntut balasan cinta. Dirinya dimewahkan dengan kata-kata pujian, dengan gurindam rindu dan madah-madah cinta yang sebelum ini tidak pernah meneroka hati dan jiwanya.
Dia percaya cinta dari Allah, tapi dia lupa itu bukan caranya. Dia alpa. Hatinya sudah tidak seperti dahulu. Hatinya dilimpahi rasa rindu si jejaka. Rindu si nafsu yang mengwar-warkan kemanisan cinta manusia. Bukan dia tidak sedar dia sudah berubah, bukan juga dia tidak sedar bahawa ketenangan hati yang pernah dianugerahkan oleh Allah semakin menjauhi. Dia menutup kesedaran itu dengan janji dan kata-kata cinta si jejaka.
Dia sudah jauh dari hidayah Allah. Imannya rapuh, syaitan menari-nari tatkala dia membenarkan tangan rakus si jejaka menyentuh dirinya bersama alunan syahdu janji kekasih. Tempat yang sepatutnya dia jaga, didedahkan. Kononnya yakin si jejaka adalah suaminya.
Tidakkah dia takut dengan dosa atau dengan azab Allah?. Ya, dia sedar tetapi separa sedar. Rasa sayangnya pada jejaka itu mulai melebihi segalanya. Namun, syukur pada Allah, Allah masih sayang padanya. Jejaka itu gagal menawan mahkota dirinya. Saat dirinya berutus cinta, dia masih lagi solat, dia tidak lupa tanggungjawabnya. Namun mungkin solatnya masih tidak sempurna lalu robohlah benteng imannya dipukul ombak nafsu cinta manusia.
Allamdullilah. Allah menurunkan hidayah pada dirinya. Di saat jejaka menyepikan diri seketika, dirinya dilanda rasa berdosa. Mengingati kembali dosa-dosa yang dilakukan, mengalir air mata kekesalan. Disaksikan kegelapan malam, dia bangun untuk bersolat taubat. Menangislah dirinya sepuas-puasnya. Dia memohon petunjuk pada Allah, dia ingin kembali, kembali atas cinta. Demi cinta Allah yang tidak pernah berpaling dari hidupnya dia nekad untuk berubah. Namun hatinya sedikit takut akan janji Allah.
"Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan begitu sebaliknya."
Apa yang patut dia lakukan kini. Dia mula merasakan dia bukan dari kalangan wanita yang baik-baik. Tidak layak untuk sesiapa. Dia menutup pintu hatinya seketika dari cinta manusia yang bernafsu yang mengeruhkan kolam keimanannya yang pasang surut. Sehingga ditakdirkan Allah untuk dirinya bertemu dengan seseorang yang mencintainya kerana Allah.
"Demi cinta Allah yang ku kejar, kuatkan hatiku untuk bertahan, berikan ku kecerdasan akal untuk sentiasa berfikir tentang kuasaMu, hulurkan pertolonganMu di saat-saat aku hampir tewas, sinarkan nur hidayahMu untuk aku terus di jalanMu. Ya Allah! Aku memohon keampunan kepadaMu."

10 petanda dia jodoh kita

Firman Allah SWT, bermaksud "Jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (Surah Muhammad, ayat 7)
Jodoh adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah yang maha Esa. Tetapi bagaimana kita mengetahui dia memang ditakdirkan untuk kita? Allah SWT mengurniakan manusia telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan aka untuk berfikir. Jadi gunakan sebaik-baiknya bagi mengungkapkan rahsia cinta yang ditakdirkan. Dua manusia yang rasa mereka dapat hidup bersama dan memang dijodohkan pasti memiliki ikatan emosi , spiritual dan fizikal antara keduanya. Apabila bersama, masing-masing dapat merasai kemanisan cinta dan saling memerlukan antara satu sama lain. Lalu gerak hati mengatakan, dialah insan yang ditakdirkan untuk bersama. Benarkah ia seperti yang diperkatakan?
Berikut adalah 10 petanda yang menunjukkan dia adalah jodoh kita :

1. Bersahaja
Kekasih kita itu bersikap bersahaja dan tidak berlakon. Cuba perhatikan cara dia berpakaian, cara percakapan, cara ketawa serta cara makan dan minum. Adakah ia spontan dan tidak dikawal ataupun kelihatan pelik. Kalau ia nampak kurang selesa dengan gayanya, sah dia sedang berlakon. Kadang-kadang, kita dapat mengesan yang dia sedang berlakon. Tetapi, apabila dia tampil bersahaja dan tidak dibuat-buat, maka dia adalah calon hidup kita yang sesuai. Jika tidak, dia mungkin bukan jodoh kita.

2. Senang Bersama
Walaupun kita selalu bersamanya, tidak ada sedikit pun perasaan bosan, jemu ataupun tertekan pada diri kita. Semakin hari semakin sayang kepadanya. Kita sentiasa tenang, gembira dan dia menjadi pengubat kedukaan kita. Dia juga merasainya. Rasa senang sekali apabila bersama. Apabila berjauhan, terasa sedikit tekanan dan rasa ingin berjumpa dengannya. Tidak kira siang ataupun malam, ketiadaannya terasa sedikit kehilangan.

3. Terima Kita Seadanya
Apapun kisah silam yang pernah kita lakukan, dia tidak ambil peduli. Mungkin dia tahu perpisahan dengan bekas kekasihnya sebelum ini kita yang mulakan. Dia juga tidak mengambil kisah siapa kita sebelum ini. Yang penting, siapa kita sekarang. Biarpun dia tahu yang kita pernah mempunyai kekasih sebelumnya, dia tidak ambil hati langsung. Yang dia tahu, kita adalah miliknya kini. Dia juga sedia berkongsi kisah silamnya. Tidak perlu menyimpan rahsia apabila dia sudah bersedia menjadi pasangan hidup kita.

4. Sentiasa Jujur
Dia tidak kisah apa yang kita lakukan asalkan tidak menyalahi hukum hakam agama. Sikap jujur yang dipamerkan menarik hati kita. Kejujuran bukan perkara yang boleh dilakonkan. Kita dapat mengesyaki sesuatu apabila dia menipu kita. Selagi kejujuran bertakhta di hatinya, kebahagiaan menjadi milik kita. Apabila berjauhan, kejujuran menjadi faktor paling penting bagi suatu hubungan. Apabila dia tidak jujur, sukar baginya mengelak daripada berlaku curang kepada kita. Apabila dia jujur, semakin hangat lagi hubungan cinta kita. Kejujuran yang disulami dengan kesetiaan membuahkan percintaan yang sejati. Jadi, dialah sebaik-baik pilihan.

5. Percaya Mempercayai
Setiap orang mempunyai rahsia tersendiri. Adakalanya rahsia ini perlu dikongsi supaya dapat mengurangkan beban yang ditanggung. Apabila kita mempunyai rahsia dan ingin memberitahu kekasih, adakah rahsia kita selamat di tangannya? Bagi mereka yang berjodoh, sifat saling percaya mempercayai antara satu sama lain timbul dari dalam hati nurani mereka. Mereka rasa selamat apabila memberitahu rahsia-rahsia kepada kekasihnya berbanding rakan-rakan yang lain. Satu lagi, kita tidak berahsia apa pun kepadanya dan kita pasti rahsia kita selamat. Bukti cinta sejati adalah melalui kepercayaan dan kejujuran. Bahagialah individu yang memperoleh kedua-duanya.

6. Senang Bekerjasama
Bagi kita yang inginkan hubungan cinta berjaya dan kekal dalam jangka masa yang panjang, kita dan dia perlu saling bekerjasama melalui hidup ini. Kita dan kekasih perlu memberi kerjasama melakukan suatu perkara sama ada perkara remeh ataupun sukar. Segala kerja yang dilakukan perlulah ikhlas bagi membantu pasangan dan meringankan tugas masing-masing. Perkara paling penting, kita dan dia dapat melalui semua ini dengan melakukannya bersama-sama. Kita dan dia juga dapat melakukan semuanya tanpa memerlukan orang lain dan kita senang melakukannya bersama. Ini penting kerana ia mempengaruhi kehidupan kita pada masa hadapan. Jika tiada kerjasama, sukar bagi kita hidup bersamanya. Ini kerana, kita yang memikul beban tanggungjawab seratus peratus. Bukankah ini menyusahkan?

7. Memahami Diri Kita
Bagi pasangan yang berjodoh, dia mestilah memahami diri pasangannya. Semasa kita sakit dia bawa ke klinik. Semasa kita berduka, dia menjadi penghibur. Apabila kita mengalami kesusahan, dia menjadi pembantu. Di kala kita sedang berleter, dia menjadi pendengar. Dia selalu bersama kita dalam sebarang situasi. Tidak kira kita sedang gembira ataupun berduka, dia sentiasa ada untuk kita. Dia juga bersedia mengalami pasang surut dalam percintaan. Kata orang, "lidah sendiri lagikan tergigit", inikan pula suami isteri'. Pepatah ini juga sesuai bagi pasangan kekasih. Apabila dia sentiasa bersama kita melalui hidup ini di kala suka dan duka, di saat senang dan susah, dialah calon yang sesuai menjadi pasangan hidup kita.

8. Tampilkan Kelemahan
Tiada siapa yang sempurna di dunia ini. Tipulah jika ada orang yang mengaku dia insan yang sempurna daripada segala sudut. Pasti di kalangan kita memiliki kelemahan dan keburukan tertentu. Bagi dia yang bersedia menjadi teman hidup kita, dia tidak terlalu menyimpan rahsia kelemahannya dan bersedia memberitahu kita. Sudah tentu bukan senang untuk memberitahu dan mengakui kelemahan di hadapan kekasihnya. Malah, dia tidak segan mempamerkan keburukannya kepada kita. Misalnya, apabila dia bangun tidur ataupun sakit dan tidak mandi dua hari, dia tidak menghalang kita daripada melawatnya.Apabila kita dan dia saling menerima kelemahan dan sifat buruk masing-masing, memang ditakdirkan kita hidup bersamanya.

9. Kata Hati
Dengarlah kata hati. Kadangkala, manusia dikurniakan Allah deria keenam yang dapat mengetahui dan memahami perasaan pasangannya. Dengan deria batin ini juga kita dapat saling tahu perasaan masing-masing. Kita dan dia juga dapat membaca fikiran antara satu sama lain dan dapat menduga reaksi dan tindakbalas pada situasi tertentu. Apabila kita yakin dengan pilihan hidup kita, tanyalah sekali lagi. Adakah dia ditakdirkan untuk kita? Dengarlah kata hati dan buatlah pilihan. Serahlah segalanya pada ketentuan yang maha berkuasa.

10. Solat Istikharah dan Tawakkal
Jodoh dan pertemuan semuanya di tangan Allah SWT. Manusia hanya perancang di pentas dunia ini dan skripnya ditulis oleh yang maha esa. Adakalanya, dalam memainkan peranan sebagai pelakon, diberi petunjuk melalui mimpi atau gerak hati. Mimpi memang mainan tidur, tetapi apabila kita melakukan sembahyang Istikharah dan memohon supaya Allah memberikan petunjuk, insya-Allah dengan izinnya kita mendapat petunjukNya. Jika dia pilihan kita, buatlah keputusan sebaiknya. Jika tidak, tolaklah dia dengan baik. Semua yang kita lakukan ini adalah bagi mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia. Setelah semuanya diusahakan, berserahlah kepadaNya dan terus berdoa. Ingatlah, nikmat di dunia ini hanya sementara.Nikmat di akhirat adalah kekal selamanya.

Adakah kita bertemu dengan orang yang salah?

Terkadang kita terfikir :
Adakah kita bertemu dengan orang yang salah?
Teman sekerja yang tak 'ngam'?
Kawan - kawan sekolah atau universiti yang tidak boleh nak buat geng study?
Housemate yang menyakitkan hati (sebab tak pandai membasuh pinggan, bercakap menggunakan kata-kata yang pedas, dan sebagainya) ?
Ataupun kekasih yang tiba-tiba dirasakan tak serasi?
(atau mungkin juga adik beradik, keluarga yang kita tidak boleh fahami perangai mereka?)
((ingat, entry ini bukan hanya untuk cinta-cinta sahaja, okey?))
Kerana hakikatnya, kita akan bertemu dengan ramainya manusia yang menjengkelkan hati kita, dan sangat sukar untuk kita bersama dengan mereka.
Pelbagai ragam dan karenah manusia yang  dapat kita temui di dunia ini.
Kerana berlainannya manusia itu adalah untuk apa .....

 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ۬ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبً۬ا وَقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاْ‌ۚ إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۬
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." - [Al Hujurat: 13]
Untuk lita'arafu..
Untuk berkenalan. Untuk mengetahui, memaknai manusia lain.
Untuk menyedari betapa beruntungnya kita, mahupun rendahnya kita berbanding manusia lain.
Untuk kita sering berlumba-lumba menggapai taqwa tanpa membeza-bezakan manusia lain.
Namun, tentu kita akan bertemu dengan manusia yang tidak serasi dengan kita serta berlainan segalanya.
Sehingga sekecil-kecil perbezaan kita menjadi besar dan dijadikan hujah untuk menjauhkan diri, apatah lagi terkadang sehingga memutuskan silaturrahim.
Walaupun diri kita dengan dia, satu aqidah, satu kefahaman dan satu cinta pada Allah..
Dan kita bertanya, mengapa diri kita dan dia, begitu jauh sekali?
Di situlah, kita kena sentiasa berusaha untuk mencari titik persamaan...

Kita takkan pernah bertemu dengan orang yang salah.
Takkan!
Kerana Allah telah menakdirkan setiap saat dan inci dalam kehidupan kita.
Setiap takdir itu merupakan satu ketetapan Allah buat kita, merupakan sesuatu yang terbaik buat kita.
Dan setiap manusia yang kita temui itu, tentu memberikan makna sesuatu pada kita.
Walaupun banyaknya kejengkelan hati kita pada dia.
Namun, tentu sebenarnya mereka yang 'salah' itu sendiri banyak mengajar kita: 'akan kekurangan diri kita sendiri.'
Bukankah seorang musuh itu terkadang lebih jujur daripada seorang sahabat sejati, yang dipetik dari kata-kata hikmah Arab.
Setiap jodoh dan pertemuan tentunya telah ditetapkan oleh Allah,
Untuk kita belajar sesuatu darinya.
Tak pernah kita bertemu dengan orang yang salah ... semua yang kita temui adalah stesen-stesen perhentian untuk mengutip hikmah, buat bekalan di dalam perjalanan.
Percayalah, kadang-kadang di awal pertemuan akan banyak berlaku perkelahian, salah faham dan ketidak seragaman.
Namun masa akan mengambil alih, memberi peluang makna kefahaman masuk ke dalam jiwa kita yang jernih.
Kerana kita pada hakikatnya, punya hati yang satu, matlamat yang satu, dan tentu cinta yang satu, hanya kepada Allah.
Ikatan hati manakah lagi yang paling kuat selain dari Allah?
Kerana itu, di setiap perselisihan, mahupun ke tidak serasian, kembalilah semula kepada apa yang akan dapat menyatukan kita.
Itulah dia Allah.
Kerana dihitung perbezaan-bezaan, memang akan semakin menjadikan hati kita jauh.
Namun, those does not matter, sebab Allah sahaja yang membinakan hati kita Insya-Allah.
And He Knows best.
Wallahua'lam.
Bersabar, dan teruslah berdoa.

Mencari keredhaan Allah

Abi Abbas r.a telah berkata: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesiapa yang menyebabkan kemurkaan Allah kerana hndak mencari keredaan manusia, Allah akan memurkainya dan Allah akan menjadikan setiap yang diredainya itu benci terhadapnya. Dan orang yang mencari keredhaan Allah, walaupun dibenci oleh manusia nescaya Allah akan meredainya dan menjadikan setiap yang membencinya itu redha terhadapnya sehingga keredaan Allah itu menghiasi dirinya, percakapannya dan amalannya, nescaya ia mendapat perhatian Allah (Diriwayatkan oleh al-Tabrani)

Mukadimah Hadis
Setiap manusia hendaklah sentiasa berusaha untuk mendapatkan keredaan Allah kerana keredaan Allah itu adalah kemuncak pengharapan manusia yang hidup di muka bumi. Ini boleh dicapai dngan melakukan segala perinta-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Huraian Hadis
1. Keredhaan Allah dapat menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Asas keredhaan itu ialah berdasarkan kepada perkara-perkara yang tidak bertentangan dengan ajaran Allah walaupun ianya bertentangan dengan kemahuan manusia.
2.  Kemurkaan Allah bergantung kepada amalan buruk manusia. Kemurkaan Allah adalah hasil daripada perbuatan manusia yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah. Mereka yang berkelakuan sedemikian tidak mendapat petunjuk dan hidayah serta akan mendapat balasan buruk di dunia atau akhirat.
3.  Allah memberi sebab menentukan keredaan-Nya dan kemurkaan-Nya, bermaksud Allah memperkenankan usaha-usaha yang dibuat bagi tujuan mencapai apa yang dikehendaki oleh seseorang sama ada keredhaan atau kemurkaan daripada Allah dan rasul-Nya atau kebencian dan keredhaan manusia.
4. Dihiasi dirinya, perkataannya dan perbuatannya bererti Allah memberi petunjuk dan taufik kepada sesiapa yang diredhai hinggalah perkataan dan perbuatan yang dilakukan semuanya elok, cantik lagi indah mengikut pandangan manusia dan pandangan Allah.
5. Keredhaan Allah dan rasulnya itulah sahaja yang boleh menentukan kedudukan seseorang mukmin, yang menangkat atau menjatuhkan darjat mereka, menghina atau memuliakannya. Makhluk Allah itu termasuk manusia adalah makhluk yang lemah dan sentiasa memerlukan perlindungan Allah lantaran itu tidak wajar seseorang mukmin itu menentang hukum Allah SWT.
6. Oleh kerana kelemahan manusia yang sering terpedaya dengan keindahan dunia maka terdapat dikalangan mereka yang suka mencari peluang mendapatkan kuasa, pengaruh, pangkat, harta sebagainya sehingga sanggup melakukan perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah. Sedang Allah dan rasulnya itulah yang mesti dibesarkan dan dimuliakan serta diharap keredaan-Nya.
Maksud firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 62;
"Mereka bersumpah kepada kamu dengan nama Allah untuk mendapat keredaan kamu, pada hal Allah dan rasulnya jualah yang lebih berhak mereka mendapat keredaannya, jika betul mereka orang yang beriman"
7. Sikap dan perbuatan mengutamakan makhluk itu banyak berlaku dihadapan mata kita sehingga ada yang sanggup melakukan kerosakan, menganiaya, penindasan dan kekerasan semata-mata untuk mendapatkan kepuasan nafsu dan keredaan makhluk. Sanggup mengampu, bermuka-muka, berpura-pura dan sebagainya asalkan mendapat apa yang dihajatkan biar apa pun yang berlaku kepada orang lain.

Pengajaran
1. Tanda kesempurnaan Iman ialah sanggup melakukan sesuatu sesuai dengan keredaan Allah dengan mengikut pengajaran al-Quran dan as-Sunnah Rasulullah, sekalipun tidak disukai oleh orang lain.
2. Sesiapa yang berusaha mendapatkan keradaan Allah maka Allah akan menolong dan memeliharanya serta mendapat perhatian-Nya. Akan tetapi sesiapa yang mengharapkan keredaan makhluk dengan membuat perkara-perkara yang di murkai Allah. Maka Allah tidak akan memberinya pertunjuk dan hidayah, tidak akan selamat di dunia dan di akhirat.
3. Kita hendaklah sentiasa mengharapkan pertunjuk Allah bagi memperkuatkan iman dan keyakinan yang akan menjadi kuasa pendorong kepada kebajikan dan menghalang daripada melakukan kerosakan dan kejahatan.

Kesimpulan
Seseorang mukmin hendaklah sentiasa berusaha mencari keredhaan Allah dan rasulnya lebih daripada yang lain kerana itulah sahaja yang akan menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sucikan hati untuk mendapatkan ketakwaan

Satu ketika, aku duduk-duduk mendengar perbualan rakan-rakan. Macam-macam isu yang dibincangkan. Bermula dengan salam perkenalan hinggalah isu politik tempatan. Perbincangan menjadi semakin hangat bilamana ada yang menyokong dan membangkang. Yang menariknya semua bersepakat yang perbahasan dan perdebatan adalah dengan tujuan mencari penyelesaian bukannya mencari kemenangan.
Seorang sahabat menyuarakan sedikit kekesalan atas tindakan sesetengah orang yang membina masjid untuk tujuan pelancongan. Keliru masjid dengan pusat peranginan agaknya. Ataupun mungkin hendak meraih undi kononnya hendak memperkenalkan Islam kepada orang bukan Islam.
Tapi....
"Orang Islam sendiri pun ramai je yang tak pi masjid...nak pulak orang bukan Islam. Bukankah fokus kita patut bertumpu kepada orang Islam dahulu?"
"Hmm...kalau orang bukan Islam pi masjid...kang jadi headline Utusan pulak.."
"Pelik-pelik...pergi pun tak boleh, tak pergi pun tak boleh."
Demikian sedikit sedutan perbualan. Sinis.
Ada satu lagi topik menarik yang dibincangkan petang itu. Panjang ulasannya, tapi aku cuba kongsikan apa yang termampu.
Topik biasa yang selalu diulang sebetulnya. Tazkiyatun nafs. Pendidikan jiwa.
"Body builder perlukan disiplin yang ketat. Tiap-tiap hari kena pi gym. Angkat macam-macam. Berat pulak tu. Susah sungguh nak membentuk physical yang mantop.."
Tekun kami mendengar bicara seorang kawan.
"Spiritual kita pun sama lah...nak ada hati yang mantop perlukan disiplin penyucian hati. Kalau orang pergi gym, kita pergi gym jugak..Gym untuk body builder bukak pagi sampai malam. Tapi gym untuk orang beriman bukak setiap masa, cuma waktu puncaknya 1/3 hujung malam."
"Hangpa nak pi tak?"
Diam semuanya. Tersenyum tersipu-sipu pun ada. Hilang seketika kepetahan berhujah seketika tadi. Refleksi diri.
"Aku tutup ngan pesanan Syeikh besar ni. Menurut Syeikh Salim bin Eid al-Hilali di dalam kitabnya Manhajul Anbiya' Fi Tazkiyatin Nufus, proses tazkiyah ini akan berlaku dengan syarat kita bertakwa dan hanya akan dicapai dengan langkah-langkah berikut:

Al-Musyaratah ertinya membuat perjanjian seperti seorang usahawan pasti akan menandatangani perjanjian

Al-Muraqabah ertinya selalu mengawasi diri. Apabila seseorang telah mengikat perjanjian, harus baginya merasakan keperluan menjaga dan mengawasi perjanjiannya agar tidak dilanggar.

Al-Mujahadah ertinya bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan.

Al-Taslim ertinya menerima segala ketetapan Allah.

Al-Ridha ertinya merasa bahawa segala pemberian Allah adalah yang terbaik buatnya"

Thursday, April 14, 2011

Demi cinta

Hidup terlalu singkat untuk membenci. Memaafkan pasangan hidup kita seperti memaafkan diri sendiri! Kesalahannya yang besar sekalipun wajar dimaafkan apatah lagi yang sengaja diperbesar-besarkan oleh kita sendiri.
Tirulah sifat Al A'ffu (Maha Pemberi Maaf)  Allah SWT... yang terus-terusan memaafkan kesalahan hamba-Nya selagi kitam sudi bertaubat. Hanya dosa syirik, selain itu... pengampunan Allah tidak bertepi dan "bertapi" lagi.
Jadi siapakah kita yang tidak mahu memaafkan kesalahan suami atau isteri kita? Kita hanya manusia yang turut berdosa... Apakah kita terlalu suci untuk tidak memaafkan dosa orang lain? Sesungguhnya, manusia lain berhak mendapat kemaafan sesama manusia. Dan manusia yang paling berhak mendapatkan kemaafan itu tidak lain tidak bukan ialah isteri atau suami kita.
Kerana cinta Allah terus sudi memaafkan, dan kerana cinta jugalah kita seharusnya sudi memaafkan kesalahan pasangan kita hanya kerana mengharapkan kemaafan Allah. Ingatlah, kita mencintai mereka bukan kerana mereka mencintai kita, tetapi kerana perintah Allah agar mencintai mereka!
Katakan kepada diri, betapa sukar sekalipun, kau wajib memaafkan. Memang kadangkala ada tingkah lakunya, tutur katanya atau sikapnya yang terlalu menyakitkan hati... Ditahan-tahan rasa, ditutup-tutup mata, dipujuk-pujuk jiwa, tetapi kesalahan itu terbayang dan terkenang jua. Hendak melupakan? Ah, jauh sekali. Sekadar memaafkan pun begitu berat terasa di hati.
Bila datang perasaan semacam itu di hati mu... sedarlah ketika itu Allah menguji cinta mu! Allah bukan sahaja menguji cinta mu kepadanya, tetapi menguji cinta mu kepada-NYA..
Pada ketika itu terujilah cinta kita, apakah benar-benar cinta kerana Allah atau cinta hanya mengikut perasaan atau cinta nafsu? Memang, orang yang paling dapat membuat diri mu marah ialah orang yang paling kau cintai. Jadi bila kita diuji begini katakan pada diri... Oh, Tuhan Kau sedang mengajarku erti cinta dan sabar.
Jika benar cintakan dia kerana cintakan DIA (Allah), maka mudahlah kita mengorbankan perasaan marah. Justeru sesungguhnya cinta itu sentiasa mengatasi dan mendahului rasa marah. Jika cinta kalah oleh marah, itu menunjukkan cinta kita belum benar-benar cinta! Kita bukan cintakannya, tetapi hanya cintakan diri kita sendiri.
Kemaafan itu akan memberi ketenangan bukan sahaja untuk isteri atau suami mu tetapi buat hati mu sendiri. Percayalah, kebencian dan kemarahan kita terhadap seseorang (lebih-lebih lagi kepada orang yang kita cintai) adalah lebih menyeksa diri sendiri berbanding dia yang kita marahkan.
Kemarahan seumpama 'bom jangka' yang menunggu saat untuk meledak di dalam diri kita.Ia boleh menjelma menjadi satu penyakit cinta yang sangat menyakitkan. Nama penyakit itu ialah "benci tapi rindu".
Sekali lagi, untuk mendapat ketenangan dalam hidup... berilah kemaafan. Kata ahli psikologi, bila kita memaafkan barulah kita 'bebas' dari belenggu individu, peristiwa dan keadaan yang kita marahkan itu.
Selagi belum memaafkan, selagi itulah apa yang kita marahkan sentiasa melekat pada diri dan hati kita.Kemarahan itu adalah "api" dalam hati kita. Ia panas dan membahang dalam diri. Manakala kemaafan umpama salju dingin yang akan memadamkannya.
Justeru, memaafkan pasangan adalah tradisi atau "life style" orang-orang yang soleh. Sayidina Umar memaafkan isteri yang meleterinya. Sayidina Ali pernah memaafkan Siti Fatimah yang pernah mengguris perasaannya. Kita tentu ingin meneladani mereka bukan? Bermulalah dengan sesuatu yang mudah, maafkan orang yang hampir dengan kita. Siapa lagi, kalau bukan isteri atau suami?
Islam menuntut kita memaafkan musuh kita sekalipun... Apatah lagi memaafkan isteri atau suami sendiri. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak bahagia. Bahagia itu bukan dengan mendapat, tetapi dengan memberi. Bukan hanya memberi keperluan fizikal dan material tetapi keperluan jiwa dan emosi, itulah kemaafan. Dan hakikatnya suami atau isteri kita lebih berhak untuk mendapat kemaafan itu sebelum kita memaafkan orang lain!
Anehnya kita sukar memaafkan orang yang masih hidup. Kita lebih mudah memaafkan orang yang telah mati. Sedangkan kemaafan itu penting untuk orang yang nasuh hidup, bukan untuk orang yang telah mati.
Bayangkan, isteri atau suami kita tiba-tiba sahaja meninggal dunia dan kita tidak sempat memaafkannya, tenangkah hati kita ketika ditinggalkan oleh sidia buat selama-lamanya? Sedangkan masih ada yang "tidak selesai" antara hati-hati kita berdua?
Atau kita sendiri yang tiba-tiba meninggal dunia, bolehkah kita kembali dengan tenang sebelum memberi kemaafan kepada orang lain? Jangan bertangguh lagi, maafkanlah, kerana tanpa kemaafan itu kita akan diburu rasa bersalah sepanjang hayat sekiranya salah seorang kita pergi menghadap Ilahi dahulu.
Percayalah! Saya pernah mendengar cerita betapa ada seorang suami yang kematian isteri, yang hingga kini masih terseksa jiwanya akibat tidak memaafkan isterinya yang tiba-tiba mati dalam satu kemalangan yang tidak disangka-sangkanya. Mintalah kemaafan, dan berilah kemaafan, jika benar kita sedari mati itu datang tiba-tiba!
Telah berapa kali saya ulangi bahawa jika kita tidak maafkan orang lain, samalah dengan  tidak memaafkan diri sendiri. Hati kita akan lebih menderita kerana itu. Telah terbukti ramai penghuni rumah sakit jiwa adalah terdiri daripada mereka yang bakhil... Bakhil kerana harta? Bukan! Tetapi terlalu bakhil untuk memberi satu kemaafan. Jangan lokek untuk memberi maaf, jika tidak, hidup kita akan sentiasa diselubungi stres, murung dan resah walaupun mungkin tidak sampai dihantar ke rumah sakit jiwa.
Kekusutan fikiran bukan disebabkan oleh sakit urat saraf tetapi kerana emosi kehampaan, kekecewaan, kekhuatiran, kerisauan dan ketakutan akibat benci dan marahkan sesuatu, seseorang atau keadaan. Penyakit ini tidak dapat diubati oleh sebarang pil, antibodi ataupun vaksin... tetapi hanya oleh tindakan memaafkan orang lain. Memberi maaf itu adalah terapi dan penawar jiwa yang lara.
Seorang ahli falsafah, Plato pernah berkata,"kesalahan ahli perubatan ialah cuba mengubat tubuh badan tanpa mengubat fikiran. Sedangkan fikiran dan jasad adalah satu dan tidak harus dirawat berasingan." Insya-Allah, sekiranya penyakit jiwa dan fikiran diubati terlebih dahulu maka penyakit lahiriah akan dapat diubati dengan mudah. Siapa doktornya? Bukankah diri kita sendiri? Apakah ubatnya? Ya, sikap pemaaf.
Justeru antara adab tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk diamalkan oleh kita ialah memaafkan kesalahan orang lain. Setelah membaca "4 Qul", doa tidur dan zikir-zikir yang lain, kita diminta memaafkan semua kesalahan orang lain pada hari itu. Dan "orang lain" yang paling dekat dan hampir dengan kita ialah teman tidur di sebelah... siapa lagi kalau bukan isteri atau suami kita.
Maafkanlah kesalahan pasangan kita sebelum episod hari itu berakhir. Jangan simpan dalam "fail" di hati sanubari kita. "Delete" segera sebelum ia bertukar menjadi virus yang akan merosakkan rasa cinta, sayang, kemesraan dan kerinduan antara kita suami isteri. Jangan lagi fikirkan "sepatutnya, dia tidak boleh buat begitu atau begini..." Selagi masih ada fikiran yang semacam itu, maka selagi itulah tidak akan ada rasa ingin memaafkan atau meminta maaf.
Siapa kita yang sepatutnya dilayan, dihormati dan dibelai mengikut jangkaan kita sendiri? Sebenarnya, jangkaan kita dalam satu-satu itulah yang menyebabkan berlakunya keretakan.
"Isteri ku sepatutnya bersikap begini terhadap ku. "
"Suami ku tidak sepatutnya bersikap begitu dengan ku."
Jangkaan-jangkaan inilah yang menimbulkan kekecewaan apabila ia tidak berlaku seperti yang kita jangkakan. Dan anehnya itulah yang sentiasa berlaku. Kenapa? Jawabnya mudah, dunia dan kehidupan tidak seperti yang kita jangkakan. Oleh itu  jangan menempah sakit jiwa dengan sering menjangkakan sesuatu yang tidak mampu  dan tidak sepatutnya dijangka. Sebaliknya, terima atau jangkalah sesuatu yang tidak dijangkakan!
Justeru, bila berlaku sesuatu yang tidak dijangkakan bersumber dari pasangan kita, maka sikap memaafkan adalah penawar yang paling melegakan. Oh, sepatutnya begitu, tetapi dia begini, tak apalah... aku maafkan. Aku akan terus mengingatkannya, mendidiknya dan mendoakannya. Semua itu kerana aku masih dan terus cintakannya. Bila ada maaf, itu petanda ada cinta. Tiada ungkapan, "tiada maaf bagi mu" selagi ada rasa cinta.
Kekadang ada yang terlalu sukar memaafkan pasangannya. Mereka ini sentiasa kesal, menyesal dan kecewa atas kesalahan, kekurangan dan kelemahan suami atau isterinya. Mereka yang diserang penyakit "benci tapi rindu" ini akan menyeksa diri sendiri. Kekadang isteri dimarahi, diherdik dan dicaci pada siang hari, namun pada malamnya dia akan tidur bersamanya lagi. Rasulullah SAW sangat membenci sikap suami yang begitu.
Mereka yang sukar memaafkan pasangan hidup akan terseksa sepanjang hidup. Hidup dalam kebencian, kesepian, kemurungan dan rasa bosan yang berpanjangan. Bila dekat timbul jemu, bila jauh timbul rindu.
Jadi maafkanlah selagi dia menjadi teman hidup mu. Petanda cinta mu akan ke syurga ialah rumah tangga mu di dunia menjadi tenang, damai dan harmoni. Apalagi yang boleh menyumbangkan ke arah itu kalau bukan kemaafan?
Kata ahli psikologi, "Tuhan boleh mengampunkan segala dosa kita, tetapi sistem saraf kita tidak." Maksudnya, sistem saraf tidak akan bertolak ansur dengan ketegangan dan kerisauan. Dan jauh lebih lama sebelum itu Rasulullah SAW telah mengingatkan, matilah kamu dengan marah mu!